Selasa, 08 Juni 2010

MENGAPA GIGI BISA BERLUBANG?

”Dokter…!!! Mengapa gigi saya bisa berlubang, padahal saya rajin sikat gigi lho...!!”

Ini adalah pertanyaan klasik yang dari pertama praktek sampai saat ini masih sering saya dengar dari pasien.

”Saya sudah rajin sikat gigi dan tidak pernah makan permen, mengapa kok gig saya masih juga berlubang?”

Protes, pasrah...

Harusnya setelah rajin sikat gigi, setelah berhenti makan permen... gigi harusnya tidak boleh berlubang, benarkah?

Fakta membuktikan bahwa lubang pada gigi bisa terjadi karena kombinasi tiga hal, yaitu adanya materi gigi, sisa makanan (karbohidrat sederhana yang bisa diurai menjadi asam), dan waktu (diperlukan waktu sekitar 24 jam untuk mengurai sisa makanan menjadi asam oleh aktivitas bakteri rongga mulut.

(bersambung, maaf saya ada perlu sehingga belum bisa menyelesaikan tulisan ini)

Kapan membawa anak ke dokter gigi?

”Dokter, kapan sebaiknya saya membawa anak saya ke dokter gigi?”

Itu adalah sebuah pertanyaan yang sering saya jumpai. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan informasi, tingkat kepedulian orang tua kepada kesehatan gigi anak pun semakin meningkat. Meski tak jarang masih saya temui, ada orang tua yang terheran-heran saat saya katakan padanya, bahwa gigi anaknya yang berlubang harus segera ditambal.

”Lho kan masih gigi susu, Dokter? Masak ditambal juga? Kan nanti bisa lepas sendiri? Masih bisa ganti kan?”

Saya tersenyum. ”Betul Bu, memang masih gigi susu. Tapi gigi susu yang dibiarkan berlubang, akan membuat anak susah makan dan sakit gigi, sehingga dapat menganggu perkembangan buah hati.”

Memang, gigi susu yang karies (berlubang) dan tidak segera dirawat, maka karies akan terus berjalan hingga mencapai dentin dan ruang syaraf. Akibatnya anak akan sering merasa sakit gigi, susah makan dan rewel. Sementara jika anak yang sudah sakit gigi baru dibawa ke dokter gigi, maka akan lebih sulit penanganannya.

The Academy of General Dentistry (AGD) and The American Dental Association (ADA) menyarankan orang tua membawa anaknya ke dokter gigi 6 bulan setelah anak tumbuh gigi sulungnya. Biasanya pada usia 1 tahun dan 18 bulan. Pada kunjungan awal tersebut, biasanya dokter gigi akan lebih banyak berbincang-bincang dengan orang tua, membekali orang tua dengan pembekalan nutrisi, tumbuh kembang anak,, khususnya gigi dan DHE (dental heath education).

Saya sering menyarankan untuk membawa anak-anak melihat orang tua atau kakaknya dirawat gigi, sehingga anak akan terbiasa dengan ruang perawatan dokter gigi termasuk akan terbiasa melihata suasana dan alatalat yang ada di ruang perawatan.

Beberapa pasien yang membawa anaknya berobat sejak usia dini, terbukti lebih kooperatif saat menjalani pemeriksaan dan perawatan gigi.

Untuk gigi anak, saya selalu menekankan bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati. Prevention is better than cure.

Perawatan pencegahan yang biasanya dilakukan untuk gigi anak yang baru tumbuh adalah topical fluor, pit and fissure sealant dan tentu saja dental health education (DHE).

Orang tua biasanya membawa anaknya berobat ke dokter gigi kalau sudah ada keluhan dari buah hatinya, misalnya gigi sakit, bengkak dan sebagainya. Semakin awal membawa anak ke dokter gigi semakin baik, semakin ekonomis juga biaya yang harus dikeluarkan. Karena bila penyakit gigi sudah menjalar dan kerusakan sudah parah, maka biaya yang dikeluarkan juga lebih banyak karena perawatan yang diperlukan pun lebih kompleks.

Jadi, ayo sayangi gigi kita… I love you, my dear teeth... ^_^

My Dear Teeth

Menjadi dokter adalah cita-cita saya sejak kecil, tepatnya menjadi seorang dokter gigi. Kalau ditanya kenapa, mungkin dalam benak masa kecil saya, menjadi dokter itu menyenangkan. Sebuah jawaban yg cukup klise barangkali, "senang bisa menolong orang sakit".

Dan saya membatasi 'hanya' sebagai dokter gigi, karena dalam benak saya dulu, dokter umum itu bidangnya sangat luas. Saya harus tahu dan mesti belajar banyak hal... karena dokter umum itu memang sangat luas cakupannya. Saya hanya membayangkan saya akan belajar dalam jangka waktu yang lumayan lama, sehingga saya khawatir tak akan dapat melakukan banyak hal. Karena saya akan menghabiskan sebagian besar hidup saya untuk belajar dan belajar. Setelah belajar dan belajar, saya pun akan menghabiskan sebagian waktu saya untuk meangani pasien... bahkan harus rela digedor pintunya malam2...hehe. Salut buat teman2 yang berprofesi sebagai dokter dan tulus ikhlas mengabdikan hidupnya untuk profesi.

Selain itu mungkin juga karena saya terinspirasi dengan dokter gigi saya semasa kecil. Namanya drg Hariyani. Beliau adalah teman sekolah ibu saya. Saya senang melihat beliau bisa membantu banyak orang dengan cukup berpraktek di rumah, sehingga anaknya yang kecil kadang mengintip mamanya dari balik tirai.

Atau karena sebuah alasan yang lain juga? Apa itu? Hm... sebenarnya ini sebuah rahasia lho... my dear teeth. Yes... there is a trouble with my teeth!

Ada masalah dengan gigi saya... hingga saya harus merasakan sakit, turunnya rasa percaya diri... wow... saya memiliki gigi yang tidak bagus karena saya waktu kecil saya kurang tahu cara merawatnya, plus kurang disiplin membersihkan gigi dengan sempurna! Akibatnya? Sudah bisa ditebak... :((

Karena itu melalui tulisan saya di blog ini, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk peduli pada kesehatan dan kebersihan gigi. Bukan karena saya seorang dokter gigi. Tapi sungguh...satu hal yang terlambat saya sadari, gigi adalah anugerah terbaik dan termahal yang diberikan Allah swt kepada kita. Marilah kita jaga dengan sebaik-baiknya... dengan cara yang amat sederhana yang semua orang bisa melakukannya... :)